Senin, 08 Desember 2008

Renunganku... Tentang Kurban

Reviewed by it'sallaboutmindset management
Cited from http://ditditutama.blogspot.com/2008/12/renunganku-tentang-kurban.html 
 Bissmillah…
Barang siapa yang mempunyai kelapangan, namun tidak berkurban, maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami” (HR. Ahmad dan Ibn Majah)

Ketika ALLAH memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail, ada pergulatan bathin yang teramat dalam di sanubari seorang Ibrahim. Ada sebuah peperangan aras filosofi dan mind set yang terjadi di dalam otak beliau. Sebagai Nabi dan sekaligus orang biasa, beliau mengalami hal yang sangat luar biasa rumit, sangat luar biasa membuat otaknya berpikir keras. Otak kita tidak akan sanggup untuk mengukur makna logis dari perintah “Menyembelih putranya sendiri”. Otak kita tidak akan mungkin bisa sampai memikirkan makna eksplisit yang tersirat dari perintah “memotong leher anaknya sendiri”.

Aku pun lantas merenung. Bukan… Bukan merenungi “Bagaimana jika perintah itu terjadi padaku”, bukan… bukan itu. aku merenungi satu hal, jika saja keimanan Nabi Ibrahim pada waktu itu, tidak sampai kepada tingkat tertinggi, mungkin perintah Kurban tidak akan pernah sampai kepada kita.

Kurban merupakan level nilai keikhlasan kita terhadap ALLAH. Yang mana merupakan feed back positif terhadap nilai keikhlasan ALLAH terhadap kita. ALLAH ikhlas kita menjadi mahasiswa atau mahasiswi, ALLAH ikhlas menjadikan kita seorang pegawai professional, ALLAH ikhlas menjadikan kita seorang dosen, ALLAH ikhlas menjadikan kita sehat wal afiat, ALLAH ikhlas menjadikan kita seorang bapak atau ibu, untuk anak-anak mungil kita, ALLAH ikhlas memberikan kita Hape merek terbaru, mobil keluaran teranyar, motor tertrendi dan masih ada jutaan keikhlasan ALLAH yang lain yang telah kita rasakan untuk kita nikmati. Namun, ALLAH hanya menuntut sebuah keikhlasan kecil untuk kita dapat dan mau menyembelih hewan kurban yang secara nilai material tidak sebanding dengan harga sebuah Hape, Laptop atau bahkan makan sehari-hari kita. Ikhlaskanlah itu, sebagai bukti implementasi rasa syukur kita kepada ALLAH azza wa jalla. Jika persyaratan kurban, hanya berlaku bagi orang yang mampu (memiliki kelapangan), maka jika kita analisis sedikit, melihat fakta-fakta di atas, aku pikir, setiap kita (minimal yang membaca artikel ini) mampu untuk berkurban.

Kurban adalah merupakan usaha kita menyembelih sifat-sifat kebinatangan (hewaniah) yang ada pada diri kita. Lapar, haus, ketamakan, egoisme yang berlebihan, mau menang sendiri, rakus akan harta dan jabatan, sombong, angkuh, kikir, takabur, dan masih ada jutaan lagi sifat kebinatangan yang ada pada hati dan otak kita, bahkan telah tercermin pada implementasi kehidupan keseharian kita. ALLAHUAKBAR. Apakah nilai-nilai indah keikhlasan ALLAH kepada kita, harus dibalas dengan nilai-nilai buruk kebinatangan kita? Sembelihlah itu, hilangkan itu dari tubuh dan diri kita. Sembelihlah kebinatangan itu, sehingga kita akan menjadi orang yang ditulis oleh ALLAH sebagai orang yang bersyukur.

Kurban berarti pemerataan perekonomian rakyat. Ketika kurban, pemerataan perekonomian diharapkan akan terjadi. Ada trilyunan rupiah yang akan berputar di level perekonomian rakyat selama tiga hari yang dijadikan hari kurban. Para peternak, para intermediary (distributor dan marketingnya), pada retailer-nya, para pengelola hewan kurban, para penyembelih hewan kurban, parusahan pengalengan hewaan kurban, perusahaan penyamakan kulit, Jika saja pemerintah negara ini sedikit mau bijak dalam menggunakan moment hari kurban ini, harusnya mereka membiarkan perputaran ratusa trilyun pada 3 hari ini terjadi di level pasar tradisional dan para pelaku pasar tradisional, berikan sedikit intervensi pada perusahaan raksasa untuk tidak me-monopoli proses pasar yang terjadi sesaat. Insya ALLAH, efek 3 hari berkurban akan menjadi momen kebangkitan bangsa Indonesia.

Semoga, tiga hari ini bisa dijadikan olehku, anda, kita semua menjadi hari yang agung, sebagai bukti keikhlasan kita terhadap ALLAH, bukti penyembelihan sifat kehewanan dan kebinatangan serta sebagai bukti sokongan kita terhadap kebangkitan perekonomian rakyat yang islami dan jauh dari riba. Amin…

Alhamdulillah…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar